KENDALA SASTRA


Salah satu kendala mutu dari suatu pendidikan adalah rendahnya tingkat literacy atau keagiatan membaca dan menulis baik dari kalangan mahasiswa, guru, dan dosen. Hal ini ditandai dengan rendahnya kreativitas dan produktivitas dosen dalam menulis suatu gagasan yang inovatif untuk dipublikasikan sebagai hasil prestasi terhadap kemampuan yang digelutinya. Paling tidak sebagai bukti bahwa dosen merupakan agen pengetahuan, ilmuwan, atau akademikus yang benar-benar pengabdian atas dasar profesi, bukan pekerja—layaknya manol dipasar-pasar, tidak sekedar srobot sana srobot sini (ngompreng mengajar) demi keuntungan finansial, akhirnya rebutan jabatan struktural untuk meraih ongkos yang lebih menjanjikan.
Perkara semacam itu bukan istilah baru, bahkan sudah menjadi budaya postingan oleh para dosen yang mutu pembelajaran sastranya ”ala kadar” dan kualifikasi atau kredibilitas sang dosen perlu dipertanyakan?. Kondisi itu diperparah dengan minimnya tingkat membaca para dosen, sehingga berdampak pada mutu dari metode pembelajaran yang disampaikan (out of date dan monoton), akhirnya menstimulasi sebuah pembelajaran yang begitu kering—tanpa ada sugestif untuk memberikan nilai protein dari proses menguyah akan suatu makna (nilai).
Membaca setidaknya bisa dijadikan representasi untuk kunci keberhasilan, semacam minimalisir politik ilaterasi dengan memperkaya kreativitas dalam suatu kegiatan pembelajaran. Karena dengan membaca, kecenderungan seorang dosen akan lebih menggigit dan memunculkan gagasan-gasan baru untuk dikembangkan dalam bentuk tulisan. Kegiatan membaca bukanlah suatu paksaan, tetapi menjadi sangat lucu (memalukan) apabila ada seorang sekaliber dosen bidang sastra yang tidak bisa menulis fiksi atau non fiksi, padahal bagi orang berlatar belakang sastra; cerpen, puisi, dan novel merupakan menu utama dalam kegiatan belajar-pembelajaran, baik dalam bentuk apresiasi atau sekedar komentar. Ini masalah kecil, tetapi harus diperhitungkan dan perlu dipikir ulang. Ibarat dosen atau mahasiswa seni lukis, tetapi tidak bisa melukis, sungguh teror yang menghantui kepincangan pendidikan berlabel Indonesia.
Betapa menyedihkan jika hal ini dibiarkan berlarut-larut, seorang dosen seharusnya mampu mengubah pola berfikir revisibilitas dan meningkatkan gairah peserta didik dalam berolah sastra. Yakni, perubahan kecakapan dan kreativitas menuju life competence. Karena, belajar sastra tidak hanya sebatas membaca sinopsis, potongan cerita, dan membaca puisi dengan istilah ”sepi ala SMA”. Dosen dan mahasiswa harus ada hubungan struktural fungsional. Keduanya saling simbiosis mutualistis dengan langkah konkrit penuh reaksi kreatif ke dalam kubangan sastra secara natural. Paling tidak metode pembelajaran sastra dalam kelas—lebih menambah gairah dan berdaya saing antar pihak.
Pembelajaran sastra dan keterampilan menulis adalah diferensial dari pernikahan sah, sebagai embrional pola berfikir lebih kritis dan analitis (critikal thinking and analytical thinking). Bayangkan betapa hancur dan babak belur kalau ada seorang dosen menjadi pembimbing dalam penulisan karya ilmiah (skripsi), padahal bobot berfikirnya dangkal dan mengambang (floating thinking), sementara sang dosen itu sendiri—tidak sama sekali membiasakan untuk menulis ilmiah. Pasti akan sangat kacau, karya ilmiah tidak berbobot, dan bernasib sampah, selanjutnya karya-karya ilmiah tersebut diberi tanda ”R” berarti ”racun” dan diberi label tengkorak—yang terpajang di sebuah etalase perpustakaan, bagi siapa yang memegangnya akan terinfeksi rasa sesak dan tersesatkan. Fenomena ini menandakan betapa miskinnya mutu dan kualitas sistem kampus beserta kroni-kroninya. Beberapa komponen harus segera mungkin untuk direformasi atau dikudeta agar keberhasilan proses pengajaran bisa terinovasi dan bernutrisi.
Sejuta permasalahan yang melilit sistem pengajaran sastra tetap harus disikapi secara wajar dan dewasa. Begitu juga masalah perikrutan dosen yang kebanyakan terkesan kegenitan krisis figur, terkesan asal-asalan, asal kenal sanak keluarga yayasan. Indikasinya, racun urat nadi pengajaran sastra tetap mengubur daya nalar mahasiswa. Suwardi Endraswara (2005) menyebutnya sebagai sistem membusukkan daging-daging pengajaran, kemudian merapuhkan tulang-tulang sastra, dan kalau tak segera diamputasi, maka virus-virus tadi akan menyublin diperedaran darah sastra—tinggal menunggu waktu, cidera selamanya. Pengajaran sastra akan membusuk, pasiennya sudah mati dan hanya tunggu dikremasi.
Kesalahan seperti ini akan terus menghantui kita yang tersadarkan. Pertama, melihat sosok dosen yang terjerat terali phobia masa kecilnya (sikap malas dan ingusan), akhirnya menjadikan pemikiran atau penalaran yang mengalami kepincangan secara frontal dan pembelajaran sastra yang dirundung duka. Kedua, manageman sistem pendidikan kampus (otonomi kampus) yang lebih mengutamakan penumpukan aset mahasiswa dan bisnis pendidikan, diduga sebagai sumber keuntungan menjanjikan secara finansial (material), berakibat pada bertumbuhnya generasi sarjana, begitu juga dosen yang ”multi-karbitan”, konsumtif dan miskin kreativitas, menjadikan intelektual absurditas tanpa ada surplus akomodatif yang mampu memberikan kontribusi yang cukup bagi dunia pendidikan.
Jika dicermati, pengajaran sastra kita cukup aneh. Pembelajaran sastra sekedar menyampaikan informasi dan mengemukakan fakta-fakta mati. Apalagi dibarengi dengan subjek didik yang per-kelasnya mencapai 50-70 mahasiswa, antara kelas B diomprengkan ke kelas A—membuat proses belajar mengajar terkesan membohongi dan feodalitas pengajaran. Sebaliknya, subjek didik harus bertaqlid buta. Sebuah kelas yang sesak dan pengap terhadap pengkondisian hegomoni badut-badut pembisnis pendidik yang nota bene-nya bergelar doktor secara ”karbitan”. Virus pengajaran sastra seperi ini malah berakibat pada dungu terhadap karya sastra, tidak mampu berfikir tentang hidup, menghayati kehidupan, memahami diri secara individu maupun kelompok, dan mempertajam informasi-informasi baru.
Hal semacam itu, akan berdampak pada psikologi diri mahasiswa. Yakni, pergi kuliah dengan tubuh dipenuh assesoris, tangan lebih senang meggenggam ponsel Black Barry dari pada buku bacaan sastra yang berkualitas. Kemudian berjalan-jalan di depan kampus ”ala karakter SMA”, berdialog dengan bahasa cengeng dan terkesan kemanja-manjaan. Kondisi seperti ini, sangat berbanding terbalik dengan pernyataan Paulo Freire yang memberikan istilah, bahwa mahasiswa sudah mencapai tahapan kesadaran kritis. Mampu melakukan kerja penyadaran kepada semua orang, terutama rakyat Indonesia yang saat ini masih berkubang pada tahap kesadaran magis dan naif.
Indikasi ini setidaknya bisa kita jadikan langkah simplifikasi untuk menciptakan inovasi baru menuju kompetensi pembelajaran sastra yang syarat akan kreativias dan stimulasi-gairah pada ilmu pengetahuan, update dengan problematika, dinamika dan perkembangan intelektualitas di era kekinian. Konsekuensinya, dosen pun tentu harus menampilkan hasil karya kreatifnya sebagai support environment dan bukti idealisme hasil bernalar (intelektual organik), tidak semata-mata apologi tanpa ada pilar follow-up yang bikin greget. Mari kita renungkan dan saling preventif !

BENGAWAN SOLO


Dalam catatan sejarah, peradaban suatu bangsa selalu dilahirkan oleh peradaban sungai. Mesir dengan Peradaban lembah Sungai Nil-nya , China dengan peradaban Sungai Yang Tse Kiang-nya, India dengan peradaban Sungai Gangga. Yang jelas, tinggi rendahnya peradaban ataupun kebudayaan umat manusia berkaitan erat dengan interaksinya dengan sungai. System religi, adat istiadat, teknologi, dan juga sistem ekonomi dan politik amat sangat ditentukan oleh keintiman bercinta dengan sungai.

Ekspedisi Bengawan Solo yang berlangsung selama 16 hari dengan menempuh jarak 548 kilometer, setidaknya menjadi penanda (semiotika) yang mengingatkan kepada generasi bangsa di Nusantara tercinta ini agar kembali menengok posisi sungai yang begitu sacral dan legendaries. Sungai sebagai salah satu bagian sekaligus symbol ekologis, selama ini sama sekali tidak dianggap memiliki nilai histories yang sacral oleh penghuni bumi sendiri. Sepanjang revolusi industri yang menjadi titik awal abad modern menyembah posisi dan peran manusia di muka bumi, hampir peradaban umat manusia memandang sebelah mata alam semesta.
Paradigma masyarakat abad modern inilah yang melahirkan ketidakseimbangan kosmosentris. Etika kosmosentrisme tidak menjadi landasan dalam pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. Teknologi pada awalnya lahir sebagai upaya untuk mempermudah dan membuat kehidupan umat manusia menjadi bahagia dan sejahtera. Namun pada perjalanannya teknologi hanya menyediakan kenyamanan, kesejahteraan dan kebahagiaan yang semu. Selanjutnya, teknologi yang tanpa disandarkan pada etika kosmosentrisme, berubah menjadi bencana besar yang siap menjerumuskan umat manusia ke jurang kehancuran.
Peradaban ekologis
Dalam konteks ekspedisi Bengawan Solo sebenarnya bangsa Indonesia khususnya, diajak kembali untuk memberi nilai berharga terhadap alam ekologis. Sungai bukan sekedar alam fisik yang mati. Namun sungai memiliki dimensi metafisik yang layak diperlakukan sebagaimana makhluk ciptaan lain dengan sejajar. Sungai dan unsure-unsur di dalamnya seperti air, memiliki peran yang begitu besar melahirkan system kehidupan masyarakat di sekitarnya. Bagaimana kecerdasan manusia mengelola sungai, memberikan hak-hak ekologisnya, akan sangat menentukan tinggi rendahnya martabat manusia. Kearifan local (local wisdom) dalam hal ini memiliki nilai tawar yang begitu tinggi. Artinya sejauh mana masyarakat sebagai pewaris peradaban sungai mampu menangkap nilai-nilai dan lokalitas budaya, social, politik dan agama.
Bengawan Solo secara histories maupun geosospol memiliki posisi yang begitu agung dalam khazanah budaya Nusantara. Bengawan Solo menjadi brand yang amat popular, sehingga mampu menjadi ikon kasultanan Surakarta maupun daerah Jawa sekitarnya. Secara geografis, sungai bengawan Solo ini membentang hingga sampai daerah Tuban, Bojonegoro di wilayah Jawa Timur. Namun sungainya tetap disebut sebagai bengawan Solo. Secara historis, sebenarnya wilayah di tepi bengawan Solo memiliki kultur agraris yang lumayan subur, stabilitas politik yang terkontrol, dan karakter budaya yang khas.
Namun kini, daerah sekitar bengawan Solo yang mayoritas masyarakatnya menggantungkan hidupnya pada pertanian, tingkat kesejahteraannya sangat memprihatinkan. Curah hujan dan sumber mata air sungai yang tidak termanage dengan optimal, melahirkan petaka bagi perekonomian masyarakat. Gagal panen, banjir, krisis air bersih, menjadi wajah baru bagi peradaban sungai bengawan Solo. Sungai tidak lagi berwajah ramah, namun menunjukkan kemarahan kepada manusia yang menginjak-injak hak-haknya, mengeksploitasi sakralitasnya. Dengan demikian Solo pun menjadi pudar indegeneous wisdom-nya. Sudah tidak ada lagi trade mark yang bisa dikibarkan untuk memberikan nilai tawar kepada public tentang khazanah kebudayaan Solo.
Seni Budaya Bengawan Solo
Kekhawatiran pudarnya peradaban sunagi-sungai di belahan bumi manapun, termasuk perdaban bengawan Solo ini hendaknya menjadi evaluasi masyarakat global setelah isu pemanasan global menggelinding seperti bom waktu. Bagaimana nasib para petani di sepanjang bengawan Solo, bagaimana krisis air bersih yang harus menimpa warga tepi benagawan Solo dsb. Bagaimana regulasi ekonomi perdagangan di sepanjang Sungai yang terbesar dan terpanjang di pulau Jawa ini?
Dan kegelisahan selanjutnya, menginjak pada eksistensi nilai-nilai budaya yang eksentrik di sepanjang Bengawan Solo. Berbagai karya seni budaya yang dicipta oleh sejarah nenek moyang sebagian besar lahir dari peradaban sepanjang Bengawan Solo. Dan karya-karya itu memiliki nilai-nilai yang perenial dan kearifan spiritual budaya Jawa yang adiluhung.
Seni wayang, seni tari, seni batik, seni rupa dan yang lainnya sangat produktif dilahirkan dari rahim kota-kota sekitar Bengawan Solo. Begitu juga dengan alat musik gamelan, sebagai ciri khas seni musik Jawa telah melegenda sampai di berbagai belahan negara asing seperti Eropa, Jepang, Hongkong dsb. Tokoh karawitan dari golongan karya kontemporer, Ki Nartosabdo dari Semarang yang juga seorang dalang kondang sangat populer dalam khazanah seni wayang di dalam negeri ataupun luar negeri.
Yang menarik pada dekade 1990-an muncul genre baru musik tradisi popular Campursari yang memadu instrumentasi gamelan dengan keyboard dan alat-alat musik Barat lainnya. Sajian mereka berada di antara musik keroncong dan gamelan Jawa. Campursari yang merupakan produk akulturasi musik Barat dan Jawa, juga lahir dari daerah Bengawan Solo.
Bengawan Solo yang adiluhung telah membuka pintu kreatifitas seni budaya yang begitu kaya khazanah kearifan dan spiritualitas. Dengan rusaknya oase mata air Bengawan Solo secara ekologis, dikhawatirkan juga menyeret pada krisis kebudayaan dan peradaban tanah Jawa yang dulu gemah ripah loh jinawe, tata tenterem karta raharjo. Bengawan Solo yang berabad-abad telah memberi inspirasi para seniman-seniman yang tulus kini harus tercemar oleh ulah tangan budaya modern yang arogan. Bengawan Solo, dimana riwayatmu kini?

Pembentukan Budaya Daerah


Penyebutan istilah ”klasik” pada teks-teks sastra atau teks sumber sejarah hakikatnya lebih berkenaan dengan masalah waktu. Apabila dilihat dari sifat pengungkapannya, dapat dikatakan bahwa kebanyakan isinya mengacu kepada sifat religius, histories, didaktis, dan belletri. Ini berarti bahwa penetapan periodisasi bagi periode sastra klasik tidak dapat dipastikan secara pasti, seperti apa yang terjadi dalam sastra Indonesia, mungkin karena penciptaan manuskrip tidak dapat diketahui secara pasti. Dalam hal ini, sastra klasik konsep awalnya lebih mengarah untuk mempengarui suatu kelompok masyarakat agar mengikuti pada kelompok tertentu, atas dasar menyampaikan ajaran-ajaran yang akhirnya dapat mendogmatisasi kemudian menjalankannya secara taqlid, sehingga bagi literator atau pencipta dari kalangan bukan abdi dalem keraton jarang mencantumkan nama pengarang atau tahun penciptaan teks itu sendiri.
Teks klasik yang tulis tangan ini dipandang sebagai hasil budaya masa lampau yang dinamakan dengan manuskrip. Teks manuskrip merupakan suatu keutuhan dan di dalamnya banyak menyimpan pesan atau ajaran tertentu. Pesan yang terbaca dalam teks secara fungsional berhubungan erat dengan culture society dan dengan bentuk kesenian lainnya. Dilihat dari makna yang dikandugnya, wacana yang berupa teks klasik itu mengemban fungsi tertentu, yaitu pembentukan pola pikir, nilai kejujuran, nilai kedisiplinan, nilai cinta kasih sesamanya, atau bahkan norma-norma lain, yang bisa diaktualisasi (relevan) bila diterapkan dalam kehidupan pada masa sekarang. Seperti apa yang terdapat dalam teks Syair Kanjeng Nabi (As. Ar. 12) dan Aji Saka Versi Islam (As. Ar. 7), dalam teks manuskrip tersebut banyak mengajarkan mengenai cara bersikap dan bertingkah laku yang baik, serta digambarkan pula mengenai sikap dan tingkah laku yang semestinya tidak kita dilakukan.
/2/
Menggali dan menemukan kembali sumber-sumber budaya masa lampau dengan memperhitungkan kearifan lokal (daerah) merupakan bagian dari upaya membangun identitas bangsa sebagai landasan bagi pembentukan jatidiri bangsa, karena kearifan ini merupakan akar suatu bangsa dalam pembentukan karakter dan akhirnya memunculkan suatu yang kreatif dan intensif.
Dalam perspektif historis, proses semacam itu tidak lepas dari ketergantungan daya dukung masyarakat sebagai agen pewaris sekaligus pengembang kultural yang seharusnya mampu bersikap plural akan dunia hiperrealitas, tetapi ada semacam imperatis yang mendesak untuk diaktualisasikan dari berbagai sudut pandang bukannya penjinakan sosial budaya atau sejenis tumbal modernitas.
Persoalan minat lagi-lagi menjadi suatu kendala tersendiri, mengingat karagu-raguan atau bahkan melestarikan suatu budaya lokal seringkali kurang bisa diuntungkan secara meterial atau rasa gensi yang begitu tinggi, Prof. Sayuti menyebutnya sebagai isu kemanusiaan yang bersifat sentral. Hal tersebut akan menjadi lebih jelas takkala peneliti dari luar negeri saat ini banyak bergentayangan memburu dan menggali berlian yang terkandung di dalam manuskrip (teks klasik). Kita (masyarakat Indonesia) sudah merasa kesakitan terhadap perampasan dan pembakaran manuskrip-manuskrip daerah yang dilakukan oleh pihak Kolonial akan pelegitimasian seseorang yang haus kekuasaan, akhirnya berakibat pada teror mental generasi berikutnya yang lebih memandang sikap apatis terhadap manuskrip. Kondisi seperti ini—diperparah lagi dengan sikap masyarakat kita saat ini yang selalu bersabar menunggu pihak asing untuk menggali sumber budaya lokal dan akhirnya menentukan arah gerak sejarah Indonesia atau daerah.
Dari situasi yang seperti itu, seharusnya kita bisa jadikan sebagai kristalisasi dan rasa nasionalisme, bukan sekedar obrolan ”warung kopi” oleh para mahasiswa atau dosen yang berkecimpung di ranah budaya atau filologi. Karena dengan cara demikian kita dapat berkomunikasi dengan orang-orang pada abad lalu, atau semacam penghubung terhadap orang pendahulu kita, salah satunya berupa manuskrip.
/3/
Tidak ada salahnya kita belajar dari sejarah masa lampau, dari sini kita dapat memperoleh berbagai macam informasi baik mengenai sejarah babad atau sejenisnya. Misalnya, kita dapat mengisahkan tentang pembakaran buku keagamaan dan kesejarahan atas perintah Sultan Demak sesudah Majapahit jatuh—sumber ini juga diperoleh dari manuskrip, yaitu dalam salah satu episode manuskrip Babad Kediri.
Manuskrip di sini diperankan sebagai sumber dari budaya itu sendiri, penggalian internalisasi terhadap nilai-nilai yang terbentuk bertahun-tahun yang membentuk budaya, hal ini akan tergerogoti oleh nilai-nilai luar apabila tidak dibarengi dengan komitmen yang kuat. Karena budaya merupakan suatu cara pandang akan dunia dan realitas yang dijalani saat ini atau sebagai word of view bagi pembentukan jiwa seseorang.
Dasar budaya suatu masyarakat itulah yang akhirnya membuka kemungkinan bagi demokrasi pluralisme secara Nasional. Manuskrip atau sumber budaya lainnya— menjadikan kristalisasi akan hal ini. Apabila kristalisasi ini benar-benar dipahami, maka akan memberikan poin untuk menuju pintu gerbang sebagai masyarakat yang bangga terhadap budaya daerah. Bukan suatu yang harus terbelakang dan rasa hormat yang dibuat-buat atas segala sesuatu yang modern, Robson menyebutnya sebagai masyarakat yang mempunyai rasa rendah diri budaya, padahal membentuk kebudaya nasional tidak lepas dari puncak-puncak budaya daerah.
Namun, kita petut berbangga diri dengan kondisi globalisasi yang semakin seragam ini, saudara Fahrudin Nasrullah mampu memberikan sumbangan dengan mengungkap sejarah ludruk Jombang—yang selama ini dianggap sebagai poros produk Jombang. Posisi harmoni seperti ini akhirnya mampu memberikan suatu ”roh pembangunan” dengan mengkristalisasi kearifan-kearifan lokal—yang selanjutnya budaya daerah tersebut memiliki aspek definitif, yaitu budi dan daya. Budi merupakan bagian dari sistem nilai dan estetika yang terwujud dalam perilaku. Sementara daya merupakan keberdayaan buah tangan dari pemahaman hidup seseorang.
Sudah saatnya bagi pihak yang sadar akan perstasi masa lampau—untuk segera melakukan gerakan atau semacam reaksi penggalian dan melestarikan budaya daerah. Dalam hal ini, Departeman Pendidikan Nasional, Departemen Kebudayaan dan Pariwisata, Dewan Kesenian, atau sanggar-sanggar budaya yang mempunyai orientasi signifikan untuk meningkatkan kinerja dan kerjasamanya.
Dengan demikian, ajaran ”wulung”, ”niti”, atau ”tutur” dan beberapa kesenian daerah atau sumber budaya (teks klasik) lainnya tetap menjadi sesuatu yang dikenal dan diaplikasikan oleh generasi sekarang. Semangat ini akhirnya memberi penyimakan yang cermat akan peninggalan-peninggalan masa lampau yang tetap relevan untuk dijadikan suatu cerminan (kristalisasi), walaupun dengan kemasan yang agak berbeda, tetapi tetap berpegang pada aspek budaya daerah dan mampu mempertahankan diri dari sirkulasi alamiah.

CATATAN TERAKHIR SUDIRMAN


Kusandarkan sejenak keringat yang menetes
Darah seakan tak ada habisnya mengucur
Kulit baja semangat perjuangan masih menempel di dadaku
Seakan takkan lekang

Ku taruhkan apapun demi bangsa ini
Semata hanya untuk generasi penerusku
Jantung nafasku masih tersisa
Takkan kuhiraukan rasa sakit ini

Masih ada bara api menyala malam itu
Masih ada harapan
Sayup - sayup kerlingan mata sang garuda seakan berkata
'harapan sudah dekat'

Semangat ku berkobar
Ku tancapkan semangat
Membuka pintu kebebasan
Kemerdekaan kekal

'Sudah dekat tuan'
'Sudah dekat tanahku'
Satu langkah yang akan membawa perubahan
Abadi

Tetapi
Semakin jauh kurasakan
Udara di sekitar seakan menjauh
Hanya hampa terasa

Mungkinkan ini akhir dari cerita fiksi ?
Gelap Gelap Gelap
Bagaikan malam tak bernyawa
Jauh jauh jauh
Dan semakin terhempas

Ku serahkan tongkat merah putih ini kepada mu Bangsaku
Teruskan perjuangan ini

Karena mu aku dapat tersenyum bahagia
Terasa damai
Takkan sia - sia ku selama ini
Terima kasih ku untuk Bangsakuu

Luka masih menyapa


“Perjalanan ini masih panjang, sayang. Siapkan perbekalan yang cukup agar kita sampai pada tujuan dengan selamat”.
Kau mengatakan itu untuk terakhir kalinya padaku. Saat kita harus dipisahkan oleh keadaan yang membawamu entah ke mana. Aku pun bertahun-tahun mencarimu, tapi hasilnya nihil. Aku kunjungi penjara-penjara yang mengurung tahanan politik tapi tak ada kamu. Aku tahu sikap hidupmu dan fikiran-fikiranmu. Tak mungkin kau seperti yang mereka tuduhkan padamu. Hanya saja bapakmu yang terlibat pada pergerakan partai yang dilarang oleh rezim penguasa waktu itu. Tetapi setahuku, tanpa alasan pelarangan dan pembubaran yang dilakukan. Hanya karena kekuasaanya tak mau terusik. Saya pikir itu saja. Aneh, aku rasa. Mereka menuduhmu tak beragama dan tak berTuhan. Bagiku itu tuduhan tanpa bukti. Sebab, setiap kau pergi denganku tak perna lupa membawa kitab sucimu. Bila waktu luang dan tak ada yang kau kerjakan, kau menyempatkan membacanya. Menjadi semakin aneh saja tuduhan itu.
Tetapi ma’af waktu itu. Aku tak bisa berbuat apa-apa. Senapan yang menghadap di mataku membuat aku tak bisa berkutik dan berbuat sesuatu untuk menolongmu. Hingga mereka menyeretmu pergi entah ke mana. Aku tak lelah mencarimu, sampai ada perubahan kekuasaan karena perlawanan yang teman-temanmu lakukan. Dan kekuasaan beralih tangan, beberapa temanmu bebas. Tapi tetap saja aku tak menemuimu. Semua teman-temanmu yang kukenal, aku datangi dan bertanya pada mereka satu persatu. Tetap saja tak ada jawaban. Mereka semua bilang tidak tahu. Aku masih tak lelah untuk mencarimu. Perbekalanku masih cukup, seperti yang kau bilang dan menyarankan padaku untuk membawa perbekalan dengan cukup sebab perjalan masih panjang. Itukah makna dari ucapanmu yang harus lakukan kini. Mencarimu dengan tak kenal rasa lelah.
Kemarin aku bertemu kawan akrabmu. Dia bilang kamu sudah dibunuh. Aku tak percaya. Jika memang sudah dibunuh, di mana letak kuburannya. Atau sisa-sisa mayatnya. Tapi kawanmu menjelaskan, bahwa kamu dibunuh dan dibuang ke pulau yang tak pernah dijamah orang. Hanya beberapa orang kepercayaan penguasa waktu itu yang tahu. Sampai sekarang pun tak terungkap. Kalau tidak dibuang berarti diracun dengan cairan yang dapat meusnakan tubuh hingga tak berbekas. Temanmu lalu memelukku dan berkata
“Ihklaskan saja kepergiannya, dia pahalawan. Kamu harus bangga, yang lebih penting sekarang bagaimana kita ungkap kebusukan-kebusukan yang ada di negeri kita”.
Aku menjadi heran pada kawan akrabmu itu, keherananku adalah setelah bertemu denganku dan pergi masuk ke mobil sedan yang berplat nomer mobil warna merah. Aku jadi tak percaya dengan ucapan kawanmu itu. Aku tetap yakin bahwa kamu masih hidup.
Malam seperti ini adalah malam di mana kita dulu pernah berbincang tentang cinta. Kau pandai memberi makna-makna perihal cinta. Aku terkagum-kagum. Mendengar cerita-ceritamu. Aku kadang malu, ke mana sikap kelelakianku? aku kalah denganmu. Kau cantik, tegas, kritis juga pandai dan cerdas. Beda denganku, hanya laki-laki yang sabar menemanimu dan tak bisa berbuat apa-apa bila kau sedang dirundung masalah. Tapi kau mengatakan, aku tak harus bicara. Cukup menemanimu dan menenangkanmu saja, kamu pun sudah bahagia. Ada hal yang indah dan tak pernah aku lupa, bulan purnama seperti malam ini. Tanganmu selalu menunjuk ke arah bulan dan mengatakan kau melihat bidadari sedang mengendong kucing. Dia menimang-nimang hingga kucingnya tertidur, bergantian dengan kucing-kucing yang lain. Kau bilang kucingnya banyak sekali. Dan itu dilakukan hingga bulan tak terlihat di langit. Saat itulah bidadari istirahat untuk tidur dan mengistirahatkan diri. Kau menginginkan pergi ke bulan suatu saat, jika negeri ini telah damai dan rakyatnya makmur.
Sehabis kau mengisahkan tentang bidadari dan mengutarakan harapanmu lalu kau lari memasuki ladang tebu. Kau mengajakku bermain-main petak umpet. Kau sembunyi di sela-sela tanaman tebu, aku pun mencarimu sampai ketemu. Bila sudah aku temukan kita sama-sama menuju lapangan dan merebahkan tubuh. Mulailah kau mengumam tentang negeri ini. Negeri yang kau katakan kaya tapi rakyatnya masih melarat. Kau pun mempertanyakan, apa yang harus dilakukan? agar bumi pertiwi yang subur ini menemui tujuannya yakni rakyat adil dan makmur.
Malam terakhir itu persis dengan malam ini, padang bulan. Awalnya kau sudah meresahkan, adanya koak burung Hering yang melintas di tepian tempat kita berada. Kau berkali-kali mengutarakan perasaan tidak enakmu padaku. Perasaan seperti yang kamu rasakan ketika Bapakmu dibawa entah ke mana dan pulang-pulang tinggal nama dan baju yang berlumur darah ada lubang peluruh di sebelah sakunya.
Tiba-tiba saja ada lampu senter manyala tepat di wajah kita. Meraka berpakaian seragam. Entah seragam warnah apa, tak jelas karena silau sinar senter yang tepat menhujam mataku. Lalu matamu ditutup, mereka mendekapmu. Meraka juga menodongkan senjata laras panjang tepat dimataku. Sempat aku melihatmu tak gentar tetap tegas. Sedang aku kencing dicelana. Mataku pun ditutup oleh meraka dan mengikatku lalu meletakkan tubuhku ditengah-tengan ladang tebu. Aku mendengar suara-suara sepatu dan lirih pembicaraan mereka
“Bawah kepenjara, kamu mau menentang negara!”.
Tetapi kau diam saja, tak menjawab, suara mulutmu meludah yang aku dengar. Dan suara mobil pun berjalan meninggalkan aku yang meringkuk tak berdaya di tengah-tengah pohon tebu. Hingga esoknya pemilik ladang tebu menemukanku dan melapas ikatanku. Aku masih trauma atas kejadian itu. Hingga berhari-hari aku di rumah. Lalu aku teringat lagi ucapanmu
“Perjalanan ini masih panjang, sayang. Siapkan perbekalan yang cukup agar kita sampai pada tujuan dengan selamat”.
Aku merenung. Dan dengan keyakinanku keberanianku mulai tumbuh. Aku merasa malu. Lalu aku diam-diam mulai mencarimu. Hingga kini, masih tak kujumpai denganmu.
“Mas…, aku datang”
“Whani, kau kah itu?
“Mas.. Iya aku”
Sambil berlari kau mendekatiku. Dan aku pun memelukmu erat-erat. Resah rinduku tumpah ruah. Belum sempat aku nikmati kerinduanku. Aku melihat gerak-gerak bayanga orang mengintai. Aku melihat senapan sedang menodong ke arahmu. Aku berbalik arah.
“Cleps…cleps…”
“Whani…”
“Mas, ma’afkan aku. Harusnya aku tak datang kemari”
“Tidak apa-apa Whani, aku malu denganmu. Dengan keberanianmu”
“Mas, tahan mas…”
“Cleps…Cleps…”

SURGA HIDUPKU


Inilah tempatku berteduh, tak ubahnya kandang ayam
yang tidak pernah dirawat pemiliknya.
Bagian-bagian sisinya sudah dibangun seunik mungkin
tetapi, bau anyir tetap menyengat menghantui kedua lubang hidungku.
dibagian sudut bangunan rak kereta, banyak dikelilingi reruntuhan sumur-sumur tua,
dan laki-laki bermainkan bola kristal bercumbu basah dengan pasangan-pasangan pantat tetangga.
juga perempuan-perempuan pembakar sabda—baru saja membuat anak pertama mereka.
bagian sudut ruang belakang, ada lereng seperti bukit yang kosong,
dengan botol Vodka dan secangkir Pop Ice.
Ludah janda adalah udara yang hari-hari harus ku telan dengan paksa,
dalam gua yang banyak keranjang-keranjang besi usang
dan kayu-kayu tua menumpuk di atas terjalan batu beramiskan darah.
”inilah tempat kencan yang umum”

TENTANG SASTRA


Sastra adalah dunia imajinasi. Tak ada karya sastra paling imajiner yang sanggup memiliki wilayah otonomi mutlak, subjektif, bahkan tiada sangkut pautnya dengan individu atau kalangan tertentu seperti perkataan Adolfo Sanchez Vasquez “sastra lahir dalam ke-kini-an dan ke-di sini-an yang konkret” (Art and Society, Merlin Press, London, 1973). Memang Vasquez dalam buku tersebut menuliskan pandangannya dari kacamata Marxisme. Tapi dari pendapat Vasquez ada satu hal yang sulit ditolak: karya sastra tak mungkin lahir dari ruang kosong.
Dalam keriuhan pergaulan metropolis tiba-tiba ada ‘kesepakatan’ bahwa tema sebagian besar karya sastra baru memusat dalam setting yang nyaris sama, yaitu kota sehingga ia tak penting lagi berasal dari mana. ‘Kesepakatan’ ini memunculkan pernyataan yang menantang kreativitas: jika arus global tak terbendung dengan menjadi serba metropolis mampukah muncul estetika baru?
Booming chick-lit dan teen-lit misalnya, juga tema sastra seks dan Islami yang menggejala setelah diawali dengan estetika sastra koran dengan mengetengahkan tema-tema sosial seperti kemiskinan adalah ciri sastra kota kita seperti halnya di Amerika Latin, Jepang, India, juga Indonesia yang mulai tidak membicarakan penindasan dalam budaya tradisinya.
Tantangan kreatif sastrawan sejatinya mampu hadir dalam bentuk lain, tentu saja dengan kegelisahan sesuai konteksnya, sehingga latar cerita entah itu kota maupun antah berantah tak penting. Bukankah cerita tetap ditulis selama manusia hidup? Masalahnya, ketika sastra kita tengah bergerak menyesuaikan tanda zaman dalam pergaulan metropolis kebanyakan baru merekam gejala dan problem sosial pada permukaan.
Sebenarnya karya sastra Indonesia dengan setting metropolis cukup banyak “menemui kemungkinan tak dikatakan”-meminjam istilah Raman Selden. Tapi karena struktur dan kedalaman masih menjadi masalah besar di sebagian besar karya sastra kita, perdebatan atas booming sastra seks, misalnya, yang juga diakui sebagai saksi zaman sastra kota akhirnya berkisar pada bahasa yang vulgar, seolah membuktikan bahwa hanya itu saja yang berhasil dicapai para penulisnya sebagai pembaruan.
Sastra kota di Indonesia juga di negara lain walau jadi terpusat dalam setting yang seragam sebenarnya masih menyisakan banyak tempat. Keberagaman daerah Indonesia dengan menjadikan sosok manusia urban di kota adalah potensi besar yang masih bisa digali. Jakarta seperti halnya New York dan kota metropolitan lainnya juga adalah melting pot. Sayang, tempat itu lebih banyak diisi karya kualitas “potret bergaya Polaroid” dan problem jatuh cinta yang klise dalam khasanah penulisan fiksi populer.
Amerika sendiri yang menjadi pusat globalisasi ternyata masih cukup melahirkan beberapa karya kuat dalam keriuhan metropolis seperti novel Chuck Palahniuk, esai-esai David Sedaris, atau kegamangan budaya Indian-Amerika dalam cerita Sherman Alexie. Karya Palahniuk seperti Fight Club adalah sisi gelap seorang manusia kota yang terasing sehingga menanggalkan kemanusiaannya. Dari generasi tertua ada J.D. Sallinger yang menampilkan kegundahan remaja Holden Caulfield (Cathcer in The Rye). Karena Amerika sudah menjadi melting pot-meleburnya berbagai budaya- “gegar budaya” menjadi topik menarik dalam sastranya. Sebutlah karya Sherman Alexie yang mengetengahkan pergulatan manusia Indian di kota besar dengan kompleksitas sosialnya. Sedangkan dari chick-lit-nya mampu menyentuh ke dalam sisi pergaulan metropolis yang kadang “memaksa” orang untuk bertindak bukan sebagai dirinya sendiri seperti terbaca di beberapa karya Sophie Kinsella.
Akibatnya bagi tipe pembaca teliti selain hanya mendapat kepuasan estetik dari karya asing dan terjemahan, baik itu sastra maupun karya populer, untuk karya lokal masih kembali pada karya pengarang lama macam Umar Kayam dalam Secangkir Kopi dan Sepotong Donat atau Seribu Kunang-Kunang di Manhattan, Gus Tf Sakai dengan Tambo, Iwan Simatupang dengan Kooong, Seno Gumira Adjidarma dengan Jazz, Parfum, dan Insiden, dan lain-lain. Jangan lupa, Pramoedya Ananta Toer juga pernah menulis sastra kota Jakarta dalam novel tipisnya Korupsi (1957). Begitu pula beberapa cerpen Martin Aleida atau penulis Aceh T.I. Thamrin (yang galibnya bukan nama baru) baru bisa muncul belakangan setelah peristiwa politik yang begitu lama mengekangnya. Sedangkan dari khasanah Islami yang beranjak pada sufistik, lagi-lagi kita masih dipuaskan oleh karya Kuntowijoyo atau Danarto.
Karya sastra kota kita sendiri akan sulit bernyali (jangankan nyali internasional akibat kendala bahasa lantaran hanya sedikit sastra kita diterjemahkan ke bahasa Inggris) jika alur, kedalaman, dan permenungan saja nyatanya masih menjadi problem kebanyakan di penulisan sastra kita.
Padahal di kota besar ranah fantasi sudah memberi sinyal akan tumbuh setelah booming chick-lit dan teen-lit mulai jenuh. Teknologi informasi dengan banyak diterbitkannya karya fantasi impor juga demam blogger- menulis jurnal di internet dengan blogspot- sadar tak sadar pada masa kini mulai mewarnai sastra kota kita dengan problem kontekstualnya yang menjadi tema. Semisal diterbitkannya Misteri Pedang Skinhead karya Attaka, Ledgard karya WD Yoga atau The Corruptor karya Stanley Timotius Kurnia (yang ditulis dengan bahasa Inggris), dan lainnya karya penulis belia yang justru lepas dari “belenggu” para pendahulunya.
Meskipun sinyalemen bibit pertumbuhan itu sudah tampak sehingga kita tinggal menunggu pembuktian seberapa kuat karya-karya mereka hadir ke publik sehingga kelak mereka menjadi penulis sastra sesungguhnya, ternyata ada satu hal yang sulit dipungkiri. Ya, ideologi yang dominan dalam sejarah sastra ternyata belum tentu dominan dalam pertumbuhan teks sastra itu sendiri!

Jaket Fashion








BUKTI CINTA SEJATI


Ada seorang wanita buta. Semua orang membenci dia, kecuali kekasihnya. Wanita itu selalu berkata, “Saya akan menikahimu saat saya bisa melihat.” Suatu hari, ada orang mendermakan mata kepada wanita itu. Akhirnya wanita itu dapat melihat. Dengan segera, dia pergi menemui kekasihnya. Tetapi, ketika dia melihat kekasihnya, dia merasa sungguh terkejut karena kekasihnya juga buta.
Kekasihnya bertanya, “Sudikah kamu menikah denganku sekarang?” Tanpa sebuah alasan, wanita itu menolak. Kekasihnyapun tersenyum dan berlalu pergi sambil berkata. “Tolong jaga mata saya baik-baik…”

MAAFKAN AKU AYAH


Sepi kurasa
Di kala malam itu kuterbangun tak beranjak dari tempat tidurku
Suara deruan AC kamar yang hanya terdengar . Kuberanjak menuju teras depan rumah bersandar diatas kursi kayu nan kokoh . Tumbuhan di sekitar rumah seoalah tak pernah tidur . . melihat ku dengan tatapan sinis .

Kabur kuingat sepi di malam itu 3 tahun yang telah lalu
‘ Den disuruh ibu jaga bapak di rumah sakit’ kata mbok sumii
‘ Iya mbok nanti aku kesana ‘

Sebelum aku ke rumah sakit , Lina kekasihkuu mengajakku untuk sekedar menyusuri kota  metropolitan yang mungkin tak ada ujungnya ini . Waktu  di habiskan hanya di dalam mobil . Menunggu antrian jutaan manusia diatas jalan ibukota , yaa ‘macet’ sebuah kata yang seakan menempel di jajaran topic dalam berita di acara TV .

Ku berhentikan sejenak mobilku di sebuah taman . Lampu- lampu jalan sayup - sayup terlihat . Tiba’’ dering suara handphoneku berbunyi . . mama menelfonkuu .
‘Halo , ya ma ?
‘Kamu di mana ben? Kan mama suruh jaga papa ! ‘
‘Iya ma sedang menuju kesana ‘
Ada perasaan yang mengganjal di pikiranku. Sesuatu yang belum pernah aku rasain
‘Ada apa ben ? kata Lina
‘Sayang aku anterin kamu pulang yaa ? aku disuruh jaga papaku di rumah sakit!
‘Kan ada petugas di rumah sakit . jadi nanti saja lah. ‘ Aku kemudian mengangguk mengiyakan .

Perasaan aneh terus mengkabuti pikiranku . Entah apa ini .

Waktu telah menunjukkan angka 11 malam . Ku segera pulang untuk beristirahat . Ketika ku sampai di depan kompleks rumah . Telihat jelas olehku bendera putih terombang ambing terkena angin malam. Lari ku keluar dari mobil . Memasuki rumahku yang di padati suara orang mengaji .
Kesedihanku tak dapat lagi ku tahan . Air mataku tak dapat ku tarik kembali . Kafan putih mendekap sosok yang aku kenal
‘ Papa ‘ . Penyesalanku tak dapat aku ungkapkan .

 Hatiku berkata ‘Bunuh aku saja , Jangan papaku , bunuh aku ! ‘ . Hatiku bergeming , bergema suara seorang Papa ‘ terima kasih atas semuanya ya nak . . Papa udah senang di sini . .Jaga mama baik’’ yaa !’

Papa yang dulu paham akan aku . Penasehat terbaik dalam hidupku . Sosok tegar pantang menyerah . Imam yang baik bagi keluarganya kini telah tiada .

Ku jalani hidup tanpa adanya seorang Imam keluarga di sisi ku . Sekarang aku lah yang menjadi penerus papa .

TERIMA KASIH PAPA , MAMA AKU AKAN MENJADI ORANG PERTAMA YANG MEMBANGGAKAN MU.

 ( untuk seorang temanku yang jauh di sana )

Diberdayakan oleh Blogger.